Wednesday , September 30 2020
Home / indonesia / Kritisi Kenaikan Cukai Rokok, Politikus GDP: Sumber Penyakit Junk Food, Bukan Tembakau: Okezone Nasional

Kritisi Kenaikan Cukai Rokok, Politikus GDP: Sumber Penyakit Junk Food, Bukan Tembakau: Okezone Nasional



[ad_1]

JAKARTA – Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (GDP), Dita Indah Sari menyatakan keberatan dan keheranannya terkait tingginya kenaikan cukai rococo yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui PMK Nomor 152 Tahunka yang disan yang

"Kemenkeu dan Kemenkes menggunakan argumentasi bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan, menimbulkan sakit jantung, kanker dan sebagainya. Maka cukai harus naik supaya harga rocok jadi mahal. Seolah-olah tembakau dan pamiakadi tahakenya kelenakeny ujarnya, Rabu, 30 Oktober 2019.

Mengutip date UNICEF PBB tahun 2016, Ketua DPP PKB bidang Ketenagakerjaan itu menyebut bahwa junk food dan field makanlah yang menyumbang peranan terbesar bagi problem kesehatan.

"12 persen anak Indonesia mengalami obesitas dan 12 persen mengalami malnutrisi justru karena fields makan yang keliru, terutama akibat consumers junk food, "bebernya.

Seharusnya kata dia, pemerintah mengkampanyekan bahaya makan makanan junk food ini secara massif. Akan tetapi justru tembakau yang kerap diklaim sebagai penyebab penyakit jantung dan kanker.

RococoIlustrasi Rokok (Photo: Okezone / Dede Kurniawan)

"Mengonsumsi junk food telah terbukti di seluruh dunia menjadi penyebab obesitas, jantung (akibat tinggi kalori-red), dan stroke.

Di Inggris, Eropa dan Amerika Serikat pajak untuk minuman bersoda sudah diberlakukan. Juga pembatasan terhadap junk food. Harusnya juga bisa diterapkan di Indonesia, "Papar Dita.

Ia meminta pemerintah dalam hal ini Kemenkes tidak selalu menyoroti tembakau sebagai satu-satunya sumber masalah kesehatan. "Justru sumber penyakit terbesar masaryakat itu ialah fields makan yang keliru," tandasnya.

(Put)

[ad_2]
Source link