Friday , November 22 2019
Home / indonesia / Pulau mirip lokasi syuting Star Trek tempat para astronaut bersiap pergi ke Mars

Pulau mirip lokasi syuting Star Trek tempat para astronaut bersiap pergi ke Mars



BBC Indonesia – Pulau mirip lokasi syuting Star Trek tempat para astronaut bersiap pergi ke Mars

It's raining tahun 1969, pair of NASA astronaut mendarat di Bulan untuk pertama kalinya. Selang 50 tahun kemudian, couple ilmuwan mengikuti pelatihan untuk mission berikutnya di sebuah tempat yang tidak terduga.

Setiap satu pecan sekali pada sekitar pukul 21.00, dengan dipandu cahaya dari berjuta bintang di langit, Raúl Martínez Morales dan Amanda Mandry berangkat untuk menyurvei planet Mars.

Pasangan ini, mantan astrofisikawan dan ahli astronomi yang obsesif, memulai kegiatannya dengan mengeluarkan alat penelitian mereka dengan hati-hati sebelum menyeberangi lautan lava dingin menuju suatu bukit berpasir merah membara.

It's raining malam-malam tertent, mereka menciptakan laboratory dadakan di samping terowongan lava raksasa atau kawah prasejarah yang cukup besar untuk mendaratkan kapal roket mereka di dalamnya.

Malam itu menjadi semakin dramatis ketika mereka melihat benda asing muncul dalam kegelapan. Mungkin hujan meteor galaksi atau bintang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Saya selalu terobsesi dengan planet-planet dan dunia lain yang belum kita kenal sejak saya masih kecil," kata Morales sambil menatap kagum pemandangan di sekitarnya. "Mars, Jupiter, Saturnus, Bulan, semuanya membuat saya terpesona."

Pemandangan di lokasi cukup menakjubkan, namun tim ilmuwan tersebut tidak sedang berada di permukaan Planet Mars sesungguhnya, meskipun mereka merasa seperti berada di sana. Faktanya, mereka berjarak 54.6 juta kilometer dari Mars, di tengah Taman Alam Los Volcanes di Lanzarote, Kepulauan Canary, Spanyol.

"Sihir" itu akan "hilang" seiring kembalinya mereka ke jalan utama di luar cagar alam itu, ketika melewati Pusat Berkendara Unta Kota Yaiza.

Ini adalah sebuah pulau di Spanyol. Bukan luar angkasa.

"Cukup menakjubkan, beech?" Kata Mandry, yang mengelola Planetarium Kosmos di pulau itu bersama Morales.

"Kenyataannya, lanskap ini lebih dekat ke ruang angkasa daripada ke daerah lain. Unique, terdapat gua-gua di sini yang mirip dengan gua yang ditemukan di Bulan dan Mars. Luar biasa, bukan?"

Hook atas photo
Mike MacEacheran

Image caption

Seminggu sekali, ahli astrophysics Raúl Martínez Morales dan ahli astronomer Amanda Mandry mengunjungi Taman Alam Los Volcanes di Lanzarote untuk menyurvei Mars.

Pulau Lanzarote diresmikan raining tahun 1993 sebagai Cagar Biosfer Unesco dan secara geologis sangat mirip dengan Bulan dan Mars. Sedemikian miripnya sehingga pulau itu menjadi salah satu pusat penelitian paling penting di dunia untuk expllorasi ruang angkasa.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) dan Badan Antariks Eropa (ESA) menggunakan Lanzarote sebagai tempat pelatihan astronot dan menguji Mars Rovers (droid yang dioperasikan dengan kendali jarak jauh).

Di Sini, a pair of ilmuwan mensimulasikan Bagaimana rasanya berada di lanskap luar angkasa dan mengambil langkah selanjutnya dalam mempersiapkan para astronot untuk bertualang di luar Bumi.

Untuk siapa pun yang menyukai dunia Eksplorasi Ruang Angkasa, musim panas ini lebih penting daripada musim-musim lainnya.

Sekitar 50 tahun yang lalu, astronaut NASA Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjadi manusia pertama dalam sejarah yang berjalan di atas permukaan Bulan ketika Apollo 11 mendarat raining 20 Juli 1969.

Banyak hal yang akan dirayakan raining peringatan itu: kata-kata iconic Armstrong, pemasangan bender Amerika, setengah miliar penonton TV, juga race nostalgia yang kuat. Akan ad juga pembahasan yang mengarah rains ide-ide liar dan apa rencana berikutnya untuk badan antariks.

Yang paling ditunggu? Rencana pengiriman manusia kembali ke Bulan raining tahun 2024, dan kemudian ke Mars.

Hook atas photo
Mike MacEacheran

Di situ lah peran Lazerote Muncul. Terkadang lanskap pulau itu tampak menentang hukum umum fisika danografi.

Selama periode enam tahun dari 1730 hingga 1736, pulau itu diguncang banyak letusan vulkanik akibat rekahan di dekat Montañas del Fuego di Taman Nasional Timanfaya yang semakin membesar. Seperempat pulau itu tertutupi abu dan material vulkanik dari perut bumi.

Pasca letusan, pulau itu tidak mati, tapi terlahir kembali. Taman Alam Los Volcanes dan Taman Nasional Timanfaya di deanery Lanzarote terkenal karena kondisinya yang seperti bulan.

Hal itu terlihat dari jumlah kerucut vulkaniknya yang mencapai lebih dari 100, ditambah gabungan dodge dari kawah yang besar, padang magma yang mengeras, aliran lava dan pasir berwarna yang tersebar di lahan seahas 172 km2.

Ada atmos yang berbeda di sini: lanskap pulau itu tampak seperti gurun di luar angkasa di mana vacant tidak bergulir. Bahkan pantainya saja terlihat asing dan menakutkan, hasil dari lahar yang tiba-tiba mendingin ketika bersentuhan dengan samudra atlantik.

Salah satu pakar yang bertanggung jawab dalam membrane mewujudkan mission ruang angkasa di Lanzarote adalah pemimpin proyek veteran Mars Loredana Bessone.

Di antara sekian banyak tanggung jawabnya – mulai dari melatih astronot hingga mengawasi pengujian mission simulasi interaksi manusia-robot – and a mengepalai program Pangea ESA, langkah pertama dalam mempersiapkan astronot untuk menjadi penjelajah lala dalam.

"Singkatnya, Lanzarote menawarkan beberapa lanskap bulan dan Mars yang realistis," kata Bessone ketika saya menghubunginya setelah berkunjung ke Kepulauan Canary.

"Sangat mudah untuk mengajari astronot berbagai jenis tugas dan operasi, tetapi tidak mudah mencetak mereka menjadi sosok ilmuwan lapangan. Pangea membantu para astronot dari berbagai latar belakang untuk menjadi ahli geologi lapangan dan yo geo-microbi.

Dan hasilnya pun berlipat ganda: astronot belajar untuk menjadi ahli geologi, ilmuwan yang mampu melakukan penyelidikan, dan mereka belajar untuk bekerja secara operasional. "

Hook atas photo
European Space Agency

Image caption

Sebagai bagian dari program pelatihan Pangea dari Badan Antariks Eropa, para astronot berlatih mengumpulkan sampel batuan dan mengendarai kendaraan explorers ruang angkasa di Lanzarote.

Proyek Pangea telah berkembang setiap tahunnya sejak debutnya pada tahun 2016. Pada tahun 2018, selama Pangea-X, kamp pelatihan proyek yang ke-10, para astronot ESA yang mengujicobakan kendaraan explorers ruang angkasa di Lanzarote, menerbone drangen

Mereka menavigasi kendaraan tersebut melalui tabung lava 6km yang terbuat dari letusan gunung berapi berusia 21,000 tahun.

Selain itu, selusin percobaan dilakukan oleh 50 ilmuwan, yang melibatkan empat badan antariksa di lima lokasi berbeda selama satu minggu. Aktivitas di luar kendaraan eksplorasi rutin dipraktekkan. Begitu juga analisis DNA mikroorganisme di lokasi tersebut.

Bagi masaruakat yang tidak tahu keberadaan pulau itu, pelatihan explorers ini mengubah pemandangan pulau menjadi layaknya lokasi syuting film yang menyatukan alur cerita Star Trek dengan Wall-E milik Disney-Pixar.

Mereka yang bekerja di dunia ektra-terestrial Lanzarote terbiasa menghadapi masalah yang tidak nyata. Perbincangan tentang gravimeter, seismograph, peralatan geodesi, dan magnetometer menjadi hal yang lumrah.

Peralatan semacam itu, yang dipajang di Pusat Pengunjung Taman Nasional Timanfaya, telah digunakan oleh ahli vulkanologi untuk memantau lanskap pulau dan membaca aktivitas gunung berapi selama beberapa dekade.

Tapi kini Anda mungkin akan lebih sering mendengar hal-hal yang berhubungan dengan laser pemetaan 3D dan pemindai berteknologi tinggi.

Salah satu skenario lunar EVA (aktivitas luar angkasa) Pangea baru-bar ini melibatkan para astronot yang mengumpulkan batu-batuan dengan alat geologis yang berasal dan berevolusi dari misi Apollo.

Mereka berkomunikasi dengan para ilmuwan dan mendokumentasikan perjalanan mereka di Electronic Fields Book yang futuristik, dengan seluruh operasi yang dikoordinir oleh direktur penerbangan di pusat pengendali mission.

Tugas lainnya melibatkan tokoh-tokoh extra-terestrial yang mengenakan pakaian antariksa mengawasi kendaraan explorasi Mars yang sedang dikendalikan dari pusat kendali jarak jauh di hamburg.

Hook atas photo
Kredit: Mike MacEacheran

Image caption

Lanskap vulkanik Lanzarote sangat mirip dengan apa yang ingin dilihat astronot di Bulan atau Mars.

"Simulasi semacam itu dapat dilakukan di bumi dengan lanskap seperti Lanzarote, tetapi mustahil untuk meniru kondisi riil saat berada di permukaan geologis planet sebenarnya," Ujar Bessone, yang juga melatih kru musim dingin Antartika untuk Stangi

"Ada banyak kendala di luar angkasa. Kesulitan medan, condisi pencahayaan, dan masalah Komunikasi, serta aksesibilitas, semuanya nyata. Sorti ruang angkasa geologis ibarat tari ballet: ia harus digerakkan dan dilatih agar berfungsi baik."

Gagasan kolot para astronot meluncur ke luar angkasa demi menancapkan bendera bukan hanya sesuatu yang dituju dalam misi-misi di masa depan.

Bagi para ilmuwan saat ini, hal itu bisa berjalan beriringan dengan hal lainnya: sebuah eksplorasi yang mewakili semua umat manusia.

Agar manusia lebih memahami bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas hidup di Bumi, melalui terobosan ilmu yang terus berkembang, dan menjadikan angkasa luar sebagai sumber kebaikan bagi umat manusia. Dan itulah mengapa mission ke Mars tetap menjadi kegiatan pamungkas bagi NASA dan ESA.

"Uji coba operasi ini membuat ESA bisa menimbang berbagai kesalahan yang tidak ingin kami ulangi ketika kami benar-benar di luar angkasa," kata Bessone.

"Anda tidak ingin berada di sana kecuali Anda tahu semuanya telah dilakukan untuk memastikan kelangsungan hidup Anda. Dan dengan rencana NASA untuk kembali menginjakkan Bulan raining 2024, saya dapat katakan bahwa kita bisa melakukannya."

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di The Spanish island where astronauts prepare for mars di laman BBC Travel


Source link